Salah langkah.. benarkah?

Bingung lagi, ketemunya selalu kata ini. Itu karena berfikir terlalu jauh, memikirkan masa depan yang belum juga pasti ditemui. Memikirkan hal hal yang buruk, terlalu mendramatisir. Nggantung, masa depannya gak tentu. Rencananya bulan ini sudah sampai target ini dan itu, tetapi nyatanya masih saja mandeg, jalan ditempat. Apa aku salah? apa aku salah langkah..?

1391710_10151956157174840_2133548435_nDengan ini, resmi masa kuliah akan bertambah lama, diiringi dengan biaya biaya yang pastinya akan semakin menumpuk, dan yang pasti target menikah, tambah jauuh.. Mungkin itu yang dikhawatirkan selama ini, jalan yang dihadapi sekarang masih jauh dari kesuksesan, jika diibaratkan berlari, aku terjatuh, dan terluka, yang lain sudah berlari maraton menjauh, jauh sekali, sepertinya begitu, aku melihat kawan kawanku, mereka telah lebih maju.

Yah, tertunda beberapa tahun, menjadi gelisah dan khawatir, perasaanku seperti itu.

Namun, setelah merenung dan memikirkan kenyataan, ternyata tak seburuk yang aku bayangkan. Semua itu hanya ilusi, toh mengapa kalau telat lulus, telat kerja, tak ada masalah sebenarnya, orang tua juga tak memaksakan untuk cepat lulus, meski sebenarnya beban juga.

“Semua yang ditakdirkan untukmu tak akan lari darimu, dan semua yang bukan untukmu pasti tak akan datang padamu, meski kamu berusaha sekeras apapun”, kata ustadz. Dari itu, aku semakin yakin bahwa setiap orang ada jalannya sendiri, untuk masalah dunia tak perlu mengkhawatirkannya, namun yang perlu dikhawatirkan adalah masalah kehidupan selanjutnya.

Kegagalan memang sering menghantui, kegalauan, dan kecemasan, salah langkah karena terbujuk oleh iblis yang membisiki disekitarnnya. Ah, masalah asmara gagal, dan menjadi terlihat begitu buruk ketika mengenangnya, namun itu hanya masalah dunia, hanya aku dan dia serta penciptalah yang tahu, dan dibalik kegagalan dan kebodohan serta kecerobohan itu, aku harus semakin dewasa dan semakin berhati-hati. Jalan hidup masih panjang, dan harus dilewati dengan rasa positif, berkhusnudzon kepadaNya. Itu yang terbaik.

Hadits “Berbukalah Dengan Yang Manis”?

ntah sejak kapan mulai populer ungkapan “Berbukalah dengan yang manis“. Ada yang mengatakan sejak sebuah iklan produk minuman menggunakan tagline tersebut di bulan Ramadhan. Sampai-sampai sebagian (atau banyak) orang menganggap ungkapan ini sebagai hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (!?!)

Yang jelas, tidak ada hadits yang berbunyi “Berbukalah dengan yang manis” atau semisalnya, atau yang mendekati makna itu. Baik dalam kitab hadits maupun kitab fiqih. Tidak ada sama sekali. Namun sayang sekali ungkapan ini disebar-sebarkan sebagai hadits oleh sebagian da’i dan juga public figure semisal para selebritis yang minim ilmu agama. Dan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

من حدَّثَ عنِّي بحديثٍ وَهوَ يرى أنَّهُ كذِبٌ فَهوَ أحدُ الْكاذبينِ

barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku suatu hadits yang ia sangka bahwa itu dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta” (HR. Muslim dalam Muqaddimah-nya).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كَفَى بِالمَرْءِ إِثْمًا أنْ يُحَدِّثَ بكلِّ ما سمعَ

cukuplah seseorang dikatakan pendusta ketika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar” (HR. Abu Daud 4992, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 2025)

Mengenai apa yang dimakan ketika berbuka sendiri sudah ada tuntunannya,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air” (HR. Abu Daud 2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Namun memang, sebagian ulama dari hadits ini meng-qiyas-kan kurma dengan makanan yang manis-manis. Taqiyuddin Al Hushni, penulis kitab Kifayatul Akhyar menukil pendapat Ar Rauyani yang menyatakan demikian:

وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ

“dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: ‘kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma’” (Kifayatul Akhyar, 200).

Namun pendapat ini perlu dikritisi karena:

  1. Nash hadits tidak mengisyaratkan illah secara tersirat maupun tersurat. Menetapkan sifat “manis” sebagai illah adalah ijtihad sebagian ulama, dan ini tidak disepakati.
  2. Kurma itu berkah. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ( إنَّ مِن الشجَرِ لما بَرَكَتُهُ كَبركةِ المسلمِ ) . فَظننتُ أنَّهُ يعني النخلةَ ، فأردتُ أنْ أقول : هي النخلةُ يا رسولَ الله ، ثم التَفتُّ فإذا أنا عاشِرُ عَشَرةٍ أنا أحْدَثهُم فسَكتُّ ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( هيَ النَّخلَة )

    Sesungguhnya ada pohon yang daunnya tidak berguguran, dan ia merupakan permisalan seorang muslim. Pohon apa itu?”. Aku (Ibnu Umar) menyangka yang dimaksud adalah pohon kurma. Namun aku enggan “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, maka aku berpaling. Karena aku terlalu muda untuk bicara kepada mereka, jadi aku diam saja. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberitahu jawabannya: “Pohon tersebut adalah pohon kurma” (HR. Bukhari 131, Muslim 2811).

    Dalam kitab Sifat Shaumin Nabi fii Ramadhan (66) karya Syaikh Ali Al Halabi dan Syaikh Salim Al Hilali dikatakan: “ketahuilah wahai hamba Allah yang taat, bahwa kurma itu memiliki keberkahan-keberkahan yang khusus yang bisa mempengaruhi hati dan membersihkannya. Ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengikuti sunnah”.

    Jika demikian makanan manis tidak bisa di-qiyas kan pada kurma, karena makanan manis biasa tidak memiliki keberkahan ini.

  3. Konsekuensi dari qiyas ini berarti jika tidak ada kurma maka yang lebih dulu dimakan adalah makanan manis, jika tidak ada makanan manis baru air. Sedangkan nash mengatakan jika tidak ada kurma maka berbuka dengan air. Walhasil, ini bertentangan dengan nash. Dan qiyas itu tidak boleh bertentangan dengan nash.Ketika menjelaskan syarat-syarat qiyas, diaantaranya Syaikh Muhammad Husain Al Jizani mengatakan: “syarat ke delapan: illah-nya tidak menyelisihi nash atau ijma’. Ini jika illah tersebut merupakan hasil istinbath” (Ushul Fiqh Inda Ahlis Sunnah, 194)
  4. Banyak ulama menjelaskan alasan mengapa Nabi berbuka dengan kurma dahulu yaitu karena kurma itu manis dan makanan manis itu menguatkan tubuh orang yang puasa. Ini dalam rangka menjelaskan hikmah bukan illah.Hikmah berbeda dengan illah, Syaikh Sa’ad bin Nashir As Syatsri mengatakan: “perbedaan antara illah dan hikmah: illah adalah washfun mundhabitun (sifat yang terukur dan jelas batasannya), sedangkan hikmah tidak selalu berupa washfun mundhabitun. Misalnya safar adalah illah untuk bolehnya meng-qashar shalat, sedangkan ‘menghilangkan kesulitan hamba’ ini adalah hikmah (dari meng-qashar)” (Muqaddimah fii Ilmi Maqashid As Syari’ah, 7).

Namun qiyas Ar Rauyani ini bukanlah qiyas fasid karena sifat “manis” ini masih termasuk sifat yang munasib li binaa-il hukmi (sifat yang cocok untuk dijadikan bahan pemutusan hukum), namun merupakan qiyas yang lemah.

Dan pendapat Ar Rauyani (yang merupakan ulama Syafi’iyah) dibantah oleh banyak ulama fiqih yang lain, termasuk para ulama dari kalangan Syafi’iyah sendiri. Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan:

“فإن عجز” عن الثلاث “فبتمرة” أو رطبة يحصل له أصل السنة “فإن عجز” عن الرطب والتمر “فالماء” هو الذي يسن الفطر عليه دون غيره خلافًا للروياني حيث قدم عليه الحلو وذلك للخبر الصحيح المذكور

“[jika tidak ada] tiga tamr atau ruthab [maka dengan satu tamr] atau ruthab. Maka dengan ini tercapai pokok sunnah. [Jika tidak ada] ruthab dan tamr [maka dengan air]. Inilah yang disunnahkan dalam berbuka, bukan yang lainnya. Tidak sebagaimana pendapat Ar Rauyani yaitu ia mendahulukan makanan manis. Pendapat ini (didahulukannya kurma dan air) berdasarkan hadits shahih yang telah disebutkan” (Al Minhajul Qawiim, 1/252)

Zainuddin Al Malibari mengatakan:

قال الشيخان: لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني: الحلو أفضل من الماء ضعيف

Syaikhan (An Nawawi dan Ar Rafi’i) mengatakan: ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’. Maka pendapat Ar Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah” (Fathul Mu’in, 1/274)

Dalam kitab Hasyiah Al Qalyubi Wa ‘Umairah (2/78) juga disebutkan:

قَوْلُهُ: (عَلَى تَمْرٍ) وَالْأَفْضَلُ كَوْنُهُ وَتْرًا وَكَوْنُهُ بِثَلَاثٍ فَأَكْثَرَ وَيُقَدِّمُ عَلَيْهِ الرُّطَبَ وَالْبُسْرَ وَالْعَجْوَةَ وَبَعْدَهُ مَاءُ زَمْزَمَ، ثُمَّ غَيْرُهُ، ثُمَّ الْحَلْوَاءُ بِالْمَدِّ خِلَافًا لِلرُّويَانِيِّ. وَيُقَدِّمُ اللَّبَنَ عَلَى الْعَسَلِ لِأَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُ

“perkataan As Suyuthi: ‘dengan kurma’, menunjukkan bahwa yang afdhal berbuka dengan tamr yang jumlahnya ganjil, tiga atau lebih, dan yang lebih utama darinya adalah ruthab dan busr dan ajwah. Dan tingkatan setelah tamr adalah air zam-zam, baru yang lainnya, baru kemudian makanan manis sebagai tambahan. Tidak sebagaimana pendapatnya Ar Ruyani. Dan juga susu diutamakan dari pada madu karena susu lebih utama dari madu”.

Maka kesimpulannya:

  1. Tidak ada hadits “berbukalah dengan yang manis“.
  2. Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Lebih salah lagi jika mendahulukan makanan manis padahal ada kurma. Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma maka dengan air minum. Adapun makanan manis sebagai tambahan saja, sehingga tetap didapatkan faidah makanan manis yaitu menguatkan fisik.

Wallahu a’lam.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id

Barangsiapa Bertawakal kepada Allah, Dia Akan Mencukupinya

Suatu ketika masuklah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam ke masjid Nabawi padahal saat itu bukan waktunya untuk melaksanakan shalat fardhu. Di dalam masjid, sahabat tersebut menemukan seorang bocah kecil sedang melaksanakan shalat dengan khusyuk. Hingga ia pun lantas menunggui bocah tersebut sampai selesai melaksanaka shalatnya.

Setelah selesai shalat, sahabat tersebut mendekati bocah itu dan menyalaminya sembari berkata, “Wahai anakku, siapakah orang tuamu?” anak tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata pertanda menangis dan sedang sedih. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai pamanku, aku adalah anak yatim piatu yang sudah tidak lagi mempunyai ayah dan ibu.”

Sahabat itu lantas memotong pembicaraan bocah tersebut dengan berkata, “Wahai anakku, apakah kamu mau ikut aku untuk kujadikan sebagai anak?”
“Apakah jika aku lapar, kamu akan memberikanku makan?” tanyanya.
“Ya.” Jawab sang sahabat Rasulullah
“Apakah jika aku telanjang, kamu akan memberikanku pakaian?” tanyanya lagi.
“Ya.” Jawabnya.
“Apakah jika aku sakit, kamu akan menyembuhkanku?” tanyanya lagi.
“Sahabat tersebut menjawab , “Jika yang ini, aku tidak bisa wahai anakku.”
“Apakah jika aku mati, kamu akan menghidupkanku?”
“Yang ini aku juga tidak bisa.”
“Jika demikian, tinggalkanlah aku kepada Dzat yang selama ini telah menjagaku, “(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat. “ (Asy-Syu’ara : 78-82)
Mendengar jawaban bocah kecil itu, sang sahabat diam seribu bahasa sambil bergumam, “Aku beriman kepada Allah. Dan barangsiapa bertawakal kepada_Nya, maka Dia akan mencukupinya.”

Di zaman sekarang ini, telah hilanglah manka bertawakkal kepada Allah. Hampir semua orang sudah sangat bergantung pada orang lain, uang dan harta; sehingga manusia menjadi celaka sebab harta dunia yang memabukkan itu.

Suatu ketika, Hatim Al-Asham ditanya tentang tawakkal, maka ia menjawab, “Aku yakin bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh orang lain, sehingga karenanya aku aku menjadi tenang. Aku yakin bahwa pekerjaanku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, sehingga aku bisa tetap bekerja melaksanakannya. Aku yakin bahwa kematian akan mendatangiku dengan secara tiba-tiba, sehingga aku harus mempersiapkannya. Dan aku yakin bahwa aku tidak dapat lepas dari pengawasan Allah, sehingga aku harus selalu malu terhadap-Nya.

Sebagian orang mengatakan, “Di setiap pagi hari, tiada setan membisikiku kecuali berbisik,” Apa yang akan kamu makan, pakaian apa yang akan kamu pakai, dan di mana kamu akan tinggal?” Aku menjawabnya, “Aku akan memakan kematian, aku akan memakai kain kafan, dan aku akan tinggal di kuburan.”

Segolongan ulama mengatakan, “Jika kamu melakukan sesuatu, maka ingatlah bahwa Allah selalu memperhatikanmu, jika kamu berbicara, maka ingatlah bahwa Allah selalu mendengar pembicaraanmu, dan jika kamu diam, maka ingatlah bahwa ilmu Allah selalu meliputimu”.

***

Dari buku : Orang-Orang Shaleh yang Enggan Dikenal
Judul Asli : Al-Atqiya’ Al-Akhfiya’
Penulis : Syaikh Sa’id Abdul Azhim

Artikel Muslimah.Or.Id

Beginilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Menyikapi Nuzulul Qur’an?

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?

Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al Baqarah: 185).

Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan pada suatu anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?

Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas tentang apa yang beliau lakukan.

(كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ) رواه البخاري

Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya” (HR. Al Bukhari)

Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

)الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ)

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. ….
Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (HR. Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?

Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.

Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akjan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.

Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.

Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.

Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” Az Zumar 23.

Dan oleh firman Allah Ta’ala :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al Anfaal: 2-4)

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

Penulis: Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Artikel Muslimah.Or.Id

Akhlak baik

Pangkal Dosa dosa ada 3 yaitu

Takabur

Tamak

Dengki

“Sedikit makan Sedikit bicara sedikit tidur, Banyak sholat, banyak sedekah, Sabar, syukur dan tawakal”

Tawakal harus didahulukan, yakin kepada Allah

Dengan Dermawan, Qona’ah (mau menerima) hatinya akan tentram

Sifat murid yang baik;

Berilmu, santun, tawakal, tidak sombong, jujur, punya malu, anteng, sabar, tenang, dan penepat

Tasawuf ada dua

–    Istiqomah -> continue, rutin dan ajeg

–    Istiqomah imannya

–    Istiqomah amalnya

o   Harus di latih dan dibiasakan, jika ingin mati dengan solat, puasa,, baca alquran, maka harus dibiasakan solat, puasa, membaca alquran.

o   Anteng / diam dari makhluk

o   Mempunyai sifat pemaaf tidak dendam berusaha berbuat baik kepada orang lain meskipun orang itu berbuat jahat kepada kita, tidak dendam

o   Orang yang bisa istiqomah dalam ibadah sampai memperbaiki akhlaknya

o   Bersopan santun’istiqomah itu menebus nafsunya untuk menyempurnakan badannya

o   Berakhlak baik kepada manusia

o   Juga membuat orang mengikuti kita tetapi kita harus paham apa yang mereka inginkan selagi tidak melanggar syariat

o   Semua keinginan kita pada bagian muamalah tidak boleh lepas jangan ingini orang mengikuti kita tetapi menuruti apa keinginan mereka selagi tidak bertentangan dengan syariah

–    Hidayah ada dua

o   Hidayah petunjuk -> diberi petunjuk dan mengetahui

o   Hidayah ianah -> diberi petunjuk dan diberi pertolongan untuk bisa melaksanakannya

–    Orang alim adalah orang yang mengerti yang baik dan dilaksanakan dan mengerti yang buruk kemudian meninggalkannya

Sambunglah tali silaturahim dari orang yang telah memutus tali silaturahim, berlaku baik terhadap orang lain, memaafkan orang yang telah menyakiti kita.

Memberi orang yang pelit dan sabar terhadap musibah

Akhlak mulia dibagi menjadi dua yaitu mengagungkan firman Allah / perintah allah dan berbuat baik terhadap makhluk allah.

Menyayangi orang yang sakit, memuliakan orang yang dating (tamu) berbicaralah yang baik kepada orang yang bicara buruk kepada kita, kalau ada orang yang meninggal ikut dating takziah, kalau orang lain senang maka kita ikut senang orang lain susah atau terkena musibah maka harus ikut berduka cita dan menghibur.

3 perkara bagi orang yang berilmu

–    Tidak dapat menfapat manfaat ilmu bagi orang yang cinta dunia

–    Jangan berteman dengan syeitan karena syeitan adalah musuh yang nyata

–    Jangan menyakiti orang yang mempunyai iman karena itu bukan pekerjaan orang yang berilmu

Ibadah ada 3 perkara

–    Menjaga urusan syariah (shalat, puasa, zakat, haji dll)

–    Ridho dan rela terhadap qodho dan qodhar, takdir dan ketetapan Allah , pembagian dan pemberian Allah

–    Meninggalkan ridhanya / keinginan badanmu untuk mendapatkan Ridhonya Allah meninggalkan nafsu demi mendapatkan ridhoNYa

Tawakal /pasrah

–    Meluruskan keyakinan (percaya) terhadap Allah terhadap apa yang telah dijanjikan oleh Allah

–    Meyakini apa yang telah ditakdirkan kepadamu tidak mustahil meskipun seluruh manusia didunia ini berusaha merebutnya Kalau itu ditakdirkan terjadi maka itu akan terjadi

Ikhlas

–    Amalmu karena Allah

–    Hatimu tidak suka dipuji manusia

–    Tidak susah, sedih ketika dihina orang

Riya / pamer

-lahir dari memuliakan orang lain

– Cara menghilangkan riya dari hati yaitu menganggap manusia itu seperti batu atau benda mati

– orang yang memuji kita tidak akan mempengaruhi kita di akhirat

-selagi orang yakin pujian dan hinanya hinaan maka tidak hilang riya dari hatinya

Jalankan apa yang kamu mengerti”

Ketika dengan mengamalkan ilmunya dengan kesungguhan lillahita’ala maka Allah akan membuka hatinya sehingga orang itu diberi tahu apa yang tidak diketahuinya

Adab menuntut ilmu

‘Tidak perlu banyak ilmu yang tidak bermanfaat

Orang yang meniti jalan akhirat harus memiliki (ada) guru

Guru untuk mengeluarkan akhlak yang buruk dari murid

Orang yang bisa mengetahui aib sendiri lebih baik daripada orang yang bisa mengetahui masa depan

Guru menanamkan yang baik dan menghilangkan yang buruk

Sifat guru yang baik yaitu:

Tidak berpaling cinta kepada dunia dan cinta kepada harta

Dia bagus karena latihan

Sikap murid kepada guru;

Menghormati lahir dan batin

–    Tidak diperbolehkan mendebat, bertanya boleh tetapi jangan mendebat

–    Karena guru memiliki pertimbangan pertimbangan tertentu yang tidak kita ketahui

–    Jangan berjalan didepannya sebisa mungkin

–    Melakukan yang diperintahkannya sebisa bisanya

–    Batinnya (dalam hati) juga menghormati jangan menggrundle

–    Setiap yang diberikan harus diterima baik lahir maupun batin

–    Menjaga diri dari berteman dengan teman yang buruk akhlaknya

–    Agar membatasi dari syeitan, syeitan berupa jin dan manusia yang mengajak kepada berbuat keburukan / jahat

–    Sehingga hati bersih dari kotoran syeitan

Hukuman muaqobah

Hukuman atau iqob untuk muaqobah , yaitu hukuman yang memberatkan kita,

setiap keburukan bagaikan titik htam yang semakin banyak apabila tidak dibersihkan dg istighfar dan amal sholeh maka hati akan mati dan gelap,

tetapi, muaqobah tdk boleh menyakiti diri sendiri

Muhasabah dan muaqobah

Muhasabah berfungsi agar tdk terjebak pd kesalahan yg sama, seorang mukmin yg baik tidak akan terjebak pada kesalahan yang sama

yg perlu di muhasabahi
-aspek ibadah kita, apakah ibadah kta sudah memadai untk menghadirkan cinta Allah kpd kita
-pekerjaan, rizki kita apakah halal atau tidak baik atau tidak
hadist rasullah, tk akan bergerak tapak kakiku hngga ia ditanya
umurnya dihabiskan untuk apa saja, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya, ilmunya sejauh mana pengamalannya
-kehidupan masyarakatnya/sosialnya
hadist, orang yg bangkrut adalah org yg datang dg zakat shalat dan amalan maghdahnya namun ia juga mencela, mengambil hati, memakan bangkainya, maka ketika dihisab, mk org yg pernah disakiti akan mengambil pahala amal sholihnya hingga habis amalnya, maka dosa2 org yg disakiti diberikan kpadanya hingga ia dicampakkan di api neraka.
-aspek dakwah, karena kelak kita juga akan ditanya.,
barang siapa ia melihat kemungkara maka ubahlah dg kekuatan, jika tak bisa maka ubahlah dg lisannya, dan jika tak mampu maka ubahlah dg hatimu dan itu adalah selemah2 iman.
muaqobah
menghukum diri kita ketika melakukan kesalahan,
umar ketika terlambat ke masjid ia menyesalinya, sebagai sangsinya ia mensedekahkan semua ladang nya untuk umat islam.
sanksi yg baik yaitu dg amal kebaikan, nabi bersabda, kebaikan itu akan menghapus kesalahan,

Muhasabah 1

Bermuhasabah artinya menghisab, menghitung atau mengintrospeksi
umar bin khattab ” hisablah kalian dulu sebelum dihisab oleh Allah swt.”
para sahabat tidak seharipun dilalui kecuali mengevaluasi diri mereka pada hari itu pada waktu malam sebelum tidur. Menghitung kesalahan2 apa yg telah dilakukan dan menghitung amal yg telah dibuat hari itu apakah cukup atau kurang.
surat al hasr, wahai orang yg beriman lihatlah apa yang telah engkau lakukan….

allah akan membayar jiwa dan harta kita serta amal shalih kita dengan surga,

dengan introspeksi kita bisa menentukan posisi kita apakah tengah beriman atau berbuat kemaksiatan
muhasabah merupakan ciri orang yang beriman
shalafus shalih mengatakan, tidak ada iman tanpa muhasabah
muhasabah merupakan karakter orang yang bertakwa, atau menuntun seseorang agar bertakwa

umar bin khattap terdapat muka yg bergaris diwajahnya karena sering menangis,

kata nabi, orang yg pandai adalah orang yang menghisab diri sendiri dan beramal untuk hari sesudah kematian, org yg lemah adlh yg mengikuti hawa nafsu dan berangan angan thd allah swt.